Saya memasang target menikah di umur 23. Eh, lewat. Daripada menunggu sesuatu yang tidak pasti, saya memutuskan untuk memulai pencarian beasiswa sambil berharap ada laki-laki yang sedang mencari istri. Sukses? Beasiswanya sukses, alhamdulillah, tetapi jodohnya nol besar, hahaha.
Lepas umur 23, saya memasang ulang target: 25 tahun. Waktu itu saya sedang melanglang buana ke negeri jauh. Mulai dari sinilah cerita random untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog April 2026 dimulai.
Bagian 1
Tahun segitu Multiply sedang hits-hitsnya sebagai platform ngeblog. Saya—yang FOMO ini—tidak mau ketinggalan, dong. Di antara tulisan curhat, terselip topik serius, yakni cerita pengalaman selama menjalani proses seleksi beasiswa hingga berhasil menjadi penerima.Tak disangka, cerita saya direspon beberapa orang dengan antusias, terutama yang pernah ditolak dan yang akan mendaftar beasiswa. Saya memberikan akses japri untuk tanya-tanya lebih lanjut, sampai konsultasi segala. Entah bagaimana awalnya, ada satu orang yang tidak termasuk dua kategori itu ikut mengirimkan chat privat di Yahoo Messenger (YM)*.
*Buat yang tidak tahu YM, mohon googling sendiri ya, hehehe.
Orang itu—ralat: laki-laki itu—adalah tokoh utama cerita random kali ini. Sebut saja namanya Adam.
Setelah ngobrol macam-macam, baru ketahuan kalau dia: 1) saudara sepupu teman main saya selama SMA, 2) teman baik (se-SMA) teman satu organisasi di kampus, sekaligus kakak kelas partner saya di organisasi tersebut, dan 3) teman seangkatan saudara sepupu saya di FKUI. Tiga kebetulan yang kalau mau dihubungkan ke takdir jadi eh, jangan-jangan jodoh.
Dan memang akhirnya pembicaraan kami mengarah ke sana. Kami sempat sekali video call lewat Skype (so last decade, hahaha) karena posisi kami yang berbeda negara. Sayangnya Adam belum segila itu untuk menemui saya di luar negeri (lagipula mahal juga). Namun, bagi saya segitu sudah cukup sebagai tanda dia serius untuk melangkah ke tahap berikutnya.
Dan memang akhirnya pembicaraan kami mengarah ke sana. Kami sempat sekali video call lewat Skype (so last decade, hahaha) karena posisi kami yang berbeda negara. Sayangnya Adam belum segila itu untuk menemui saya di luar negeri (lagipula mahal juga). Namun, bagi saya segitu sudah cukup sebagai tanda dia serius untuk melangkah ke tahap berikutnya.
Singkat cerita, setelah bertemu kedua orang tua saya, ada beberapa hal yang membuat mereka bilang, “Kayaknya jangan deh sama dia”. Dengan berat hati, saya sampaikan hal tersebut lewat email. Tentu dia syok, tidak menyangka kelanjutannya akan seperti ini.
Hubungan kami pun selesai dengan cara yang meninggalkan luka di hati masing-masing. Kami tidak lagi mengobrol seperti biasa di YM, pun tidak berbalas komentar di Facebook.
Sampai akhirnya, beberapa bulan kemudian Adam mengabarkan kalau dia akan segera menikah dengan teman seangkatannya, sesama dokter. Aneh deh rasanya, mengucapkan doa untuk pengantin kepada seseorang yang pernah sama-sama punya niat ke situ juga. But life must go on. Dia sudah menemukan pasangannya, sementara saya masih harus berjibaku di laboratorium demi tesis.
Namun, tidak pernah ada dalam bayangan saya, Allah SWT punya skenario berikutnya untuk kami.
Dua tahun menikah, saya ikut suami yang sedang S3 ke negeri jauh di seberang benua. Kami tinggal di kota penyokong salah satu kota teramai di sana.
Suatu hari sepupu saya mengabari kalau dia mengikuti semacam pelatihan kedokteran di negara tempat saya tinggal, tepatnya di dua kota. Salah satunya di kota sebelah. Dia minta izin untuk menginap 2–3 malam di rumah.
Kami tentu senang kedatangan saudara dari Indonesia. Rencana jalan-jalan pun dirancang. Hari pertama kami makan di restoran daging panggang, bersama dengan rombongan temannya sesama dokter yang juga ikut pelatihan di waktu yang sama. Di hari kedua kami memutuskan pergi ke kebun binatang dengan personil yang sama.
Di kebun binatang semua berjalan biasa saja, sampai di satu tempat saat menunggu sesuatu, sesosok laki-laki berjalan cepat ke arah saya, suami, dan sepupu lalu menyapa, “Halo, Muti. Apa kabar?” ADAM! Jantung saya seperti melorot ke bawah saat itu juga. Kagetnya kebangetan.
Bisa dibilang itu pertemuan fisik pertama kami sejak berkenalan beberapa tahun lalu. Entah suami saya sempat berpikir atau tidak, kenapa dia tahu nama saya sebab kejadiannya begitu cepat. Setelahnya Adam langsung bercerita kalau dia dan anaknya sedang berkeliling berbekal peta. Anaknya suka sekali ke kebun binatang dan setiap kali ke sana mereka selalu melewati jalur berbeda saking luasnya.
Situasinya agak tidak adil karena saya yakin sepupu saya sudah bercerita ke Adam dan istrinya bahwa dia menginap di rumah saya (that's why he casually greeted us), tapi dia tidak bilang kepada saya bahwa mereka sudah janjian bertemu di kebun binatang. Kenapa saya bisa berpikir begitu? Karena ternyata Adam sudah menyiapkan makanan dalam rangka mengundang kami semua ke rumah.
Oh iya, ada yang terlewat. Saya sudah sebutkan di atas, Adam dan sepupu saya adalah teman kuliah. Lewat sepupu itu, Adam pernah menitipkan buku karyanya untuk saya. Sepertinya sepupu saya sudah menebak ada sesuatu di antara kami waktu itu. Makanya, dia tidak bilang apa-apa soal rencana janjian di kebun binatang dan acara setelahnya.
Saya dan suami tidak punya rencana apa-apa selain pulang setelah dari kebun binatang. Karena itu, waktu Adam tanya, “Muti ikut kan ke rumah?” saya antara enggan dan terpaksa mengiyakan. Karena tidak enak dengan sepupu, akhirnya saya, suami dan anak-anak ikut juga.
Ternyata perjalanan ke rumah Adam tidak sebentar. Kami harus berganti moda transportasi beberapa kali. Sepanjang itu saya tidak tahu cara membuka obrolan dengannya saat posisi kami berdekatan. Kenal, tapi tidak kenal.
Lebih canggung lagi karena saat itu hanya ada tiga laki-laki dewasa di rombongan kami: suami saya, Adam, dan ayah dari teman sepupu. Mau tidak mau mereka mengobrol. Untungnya suami saya baik hati dan tidak sombong, hehehe. Lebih tepatnya, dia tidak tahu laki-laki yang pernah saya ceritakan dekat dengan saya sebelum menikah itu sekarang ada di hadapannya.
Selama di rumah pun saya dan Adam tidak mengobrol langsung. Terlebih, saya dan suami minoritas. Sepupu saya, istri Adam, Adam, dan teman sepupu sudah saling mengenal sejak kuliah. Mereka banyak mengobrol sesamanya. Kadang Adam mengobrol dengan suami atau orang tua dari teman sepupu.
Sampai akhirnya, beberapa bulan kemudian Adam mengabarkan kalau dia akan segera menikah dengan teman seangkatannya, sesama dokter. Aneh deh rasanya, mengucapkan doa untuk pengantin kepada seseorang yang pernah sama-sama punya niat ke situ juga. But life must go on. Dia sudah menemukan pasangannya, sementara saya masih harus berjibaku di laboratorium demi tesis.
Namun, tidak pernah ada dalam bayangan saya, Allah SWT punya skenario berikutnya untuk kami.
Bagian 2
Saya percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini sebab takdir sehelai daun yang jatuh pun sudah tertulis. Yang ada hanya keterbatasan pengetahuan kita terhadap masa depan.Dua tahun menikah, saya ikut suami yang sedang S3 ke negeri jauh di seberang benua. Kami tinggal di kota penyokong salah satu kota teramai di sana.
Suatu hari sepupu saya mengabari kalau dia mengikuti semacam pelatihan kedokteran di negara tempat saya tinggal, tepatnya di dua kota. Salah satunya di kota sebelah. Dia minta izin untuk menginap 2–3 malam di rumah.
Kami tentu senang kedatangan saudara dari Indonesia. Rencana jalan-jalan pun dirancang. Hari pertama kami makan di restoran daging panggang, bersama dengan rombongan temannya sesama dokter yang juga ikut pelatihan di waktu yang sama. Di hari kedua kami memutuskan pergi ke kebun binatang dengan personil yang sama.
Di kebun binatang semua berjalan biasa saja, sampai di satu tempat saat menunggu sesuatu, sesosok laki-laki berjalan cepat ke arah saya, suami, dan sepupu lalu menyapa, “Halo, Muti. Apa kabar?” ADAM! Jantung saya seperti melorot ke bawah saat itu juga. Kagetnya kebangetan.
Bisa dibilang itu pertemuan fisik pertama kami sejak berkenalan beberapa tahun lalu. Entah suami saya sempat berpikir atau tidak, kenapa dia tahu nama saya sebab kejadiannya begitu cepat. Setelahnya Adam langsung bercerita kalau dia dan anaknya sedang berkeliling berbekal peta. Anaknya suka sekali ke kebun binatang dan setiap kali ke sana mereka selalu melewati jalur berbeda saking luasnya.
Situasinya agak tidak adil karena saya yakin sepupu saya sudah bercerita ke Adam dan istrinya bahwa dia menginap di rumah saya (that's why he casually greeted us), tapi dia tidak bilang kepada saya bahwa mereka sudah janjian bertemu di kebun binatang. Kenapa saya bisa berpikir begitu? Karena ternyata Adam sudah menyiapkan makanan dalam rangka mengundang kami semua ke rumah.
Oh iya, ada yang terlewat. Saya sudah sebutkan di atas, Adam dan sepupu saya adalah teman kuliah. Lewat sepupu itu, Adam pernah menitipkan buku karyanya untuk saya. Sepertinya sepupu saya sudah menebak ada sesuatu di antara kami waktu itu. Makanya, dia tidak bilang apa-apa soal rencana janjian di kebun binatang dan acara setelahnya.
Saya dan suami tidak punya rencana apa-apa selain pulang setelah dari kebun binatang. Karena itu, waktu Adam tanya, “Muti ikut kan ke rumah?” saya antara enggan dan terpaksa mengiyakan. Karena tidak enak dengan sepupu, akhirnya saya, suami dan anak-anak ikut juga.
Ternyata perjalanan ke rumah Adam tidak sebentar. Kami harus berganti moda transportasi beberapa kali. Sepanjang itu saya tidak tahu cara membuka obrolan dengannya saat posisi kami berdekatan. Kenal, tapi tidak kenal.
Lebih canggung lagi karena saat itu hanya ada tiga laki-laki dewasa di rombongan kami: suami saya, Adam, dan ayah dari teman sepupu. Mau tidak mau mereka mengobrol. Untungnya suami saya baik hati dan tidak sombong, hehehe. Lebih tepatnya, dia tidak tahu laki-laki yang pernah saya ceritakan dekat dengan saya sebelum menikah itu sekarang ada di hadapannya.
Selama di rumah pun saya dan Adam tidak mengobrol langsung. Terlebih, saya dan suami minoritas. Sepupu saya, istri Adam, Adam, dan teman sepupu sudah saling mengenal sejak kuliah. Mereka banyak mengobrol sesamanya. Kadang Adam mengobrol dengan suami atau orang tua dari teman sepupu.
Saat pulang adalah saat paling melegakan hari itu. Satu beban mental terlepas dari pundak. Saya pikir keterkaitan kami selesai sampai situ. Ternyata, belum.
Bagian 3
Lupa info dari mana, sebenarnya jauh sebelum peristiwa di kebun binatang itu saya sudah tahu kalau Adam dan keluarganya tinggal di kota sebelah. Saya juga tahu nama istrinya. Mereka berdua satu rombongan haji dengan guru mengaji saya selama negeri rantau, sebelum saya datang ke sana. Meski begitu, pertemuan di kebun binatang memang benar-benar kejutan, di luar prediksi BMKG.Cerita random saya masih berlanjut. Tahun berikutnya, saya sempat mengobrol sebentar dengan istri Adam saat mengambil barang titipan dari sepupu. Bisa kenal dengan istri seseorang yang dulu pernah berniat menikahi saya, tuh rasanya aneh (dua kali ya saya bilang begini). Dalam hati, sebelum kamu itu saya, loh, hahaha.
Kemudian, Adam, berbekal pengetahuan agamanya, menjadi guru tahsin bagi ikhwan di komunitas muslim Indonesia tempat kami bernaung. Sepertinya berkat tautannya dengan keluarga guru mengaji saya. Tentu suami saya ikut menjadi salah satu muridnya. Waktu itu masih dalam kondisi pandemi, jadi pertemuannya selalu daring. Setiap pertemuan berlangsung, saya berusaha untuk tidak bersuara di sekitar suami, padahal tidak mesti begitu juga, hahaha.
Pernah pula Adam memberikan tausiyah di satu acara komunitas tersebut. Untung acaranya masih daring sehingga kami tidak perlu bertatap muka langsung lagi. Kalau luring, bukan tidak mungkin, situasi canggung akan terulang.
Penutup
Semenjak pulang ke Indonesia, alhamduillah belum ada cerita random bagian 4. Apakah di masa depan akan ada? Wallahu a’lam. Yang jelas, saya meyakini semua yang pernah dan akan terjadi adalah bagian dari takdir Allah SWT. Mungkin ini hikmah yang bisa diambil #asik.Kadang hidup memang selucu itu. Makanya jangan serius-serius amat agar bisa tetap menikmati setiap episodenya dengan tetap berprasangka baik. Cheers!

0 Comments